Bagaimana Analisis Komposisi Tubuh dapat Sangat Berguna untuk Rehabilitasi Pasca COVID-19

Pasien COVID-19 cenderung mengalami penurunan berat badan yang signifikan, malnutrisi, dan penurunan komposisi tubuh yang disebabkan oleh banyak faktor. Faktor utamanya adalah sebagai berikut:
- Infeksi COVID-19 dapat menyebabkan inflamasi yang parah, terutama pada pasien dengan penyakit kronis.
- Malnutrisi sering terlihat pada pasien COVID-19. Penelitian oleh Brugliera, et al menunjukkan bahwa sebanyak 45% pasien mengalami risiko malnutrisi tinggi dan 26% mengalami risiko sedang. Patologi kronis dan asupan makanan yang tidak adekuat disebabkan oleh mual, diare, dan kehilangan nafsu makan meningkatkan risiko malnutrisi pada pasien COVID-19. Suatu penelitian bahkan menunjukkan lebih dari 90% pasien COVID-19 mengalami disfagia dengan berbagai tingkatan.
- Infeksi COVID-19 juga sering disertai dengan imobilisasi berkepanjangan, yang dapat menyebabkan muscle wasting hingga sarcopenia. Sarcopenia terkait dengan peningkatan risiko malnutrisi, kecacatan, dan penurunan kualitas hidup. Sebuah penelitian menunjukkan bukti bahwa terjadi muscular damage pada pasien COVID-19, terutama pasien yang dirawat di rumah sakit dan di ICU.
Faktor-faktor ini bersama-sama menyebabkan body wasting yang signifikan pada pasien COVID-19. Selain itu, diketahui juga bahwa usia lanjut sangat terkait dengan risiko malnutrisi. (1–3)
Perubahan Komposisi Tubuh Setelah Infeksi COVID-19
Salah satu case pasien yang baru sembuh dari COVID-19 diukur komposisi tubuhya dengan menggunakan InBody770. Beliau adalah seorang laki-laki berusia 50 tahun yang sempat terinfeksi COVID-19 pada tanggal 19 Desember 2020 dan dirawat di rumah sakit tanggal 4 sampai 9 Januari 2021. Berikut hasil InBody Test-nya sebelum terinfeksi dan sesudah terinfeksi COVID-19.
| Sebelum | Sesudah | |
| Weight | 90,3 kg | 85,5 kg |
| Skeletal Muscle Mass | 40,2 kg | 37,2 kg |
| ECW Ratio | 0,369 | 0,374 |
| Phase Angle | 9,5 | 5,7 |
Bagaimana InBody Berperan dalam Proses Recovery Pasien Pasca COVID-19
Dalam perawatan ini, InBody dapat digunakan sebagai alat untuk manajemen rehabilitasi pasien pasca COVID-19. Melalui InBody, terapis dapat memeriksa bagaimana komposisi tubuh berubah setelah terinfeksi COVID-19 dan selama recovery.
Pada case ini, beliau mengalami kesulitan bernapas dengan baik pasca COVID-19. Kondisi seperti ini banyak ditemui pasca COVID-19. Maka dari itu perlu dilakukan latihan secara terkontrol untuk memulihkan fungsi paru-paru dan kemampuan bernapasnya. Latihan secara teratur juga disarankan pasca COVID-19 untuk meningkatkan kesehatan, meningkatkan kekuatan otot, mengurangi stress, dan meningkatkan energi. (5)
Beliau memulai latihan dengan terkontrol. Dimulai dengan berjalan perlahan antara dapur dan kamar. Kemudian ia mencoba beberapa latihan dengan memantau tingkat SvO2 dan HR-nya untuk menemukan olahraga terbaik tanpa memengaruhi kondisi tubuhnya. Beliau menemukan bahwa bersepeda dalam ruangan dengan zero effort dapat mempertahankan SvO2-nya antara 88-92% dan HR antara 78-90. Beginilah cara beliau melatih paru-parunya secara sistematis.
Setelah berolahraga dengan cara yang terkontrol, komposisi tubuhnya juga mengalami perubahan ke arah yang lebih baik.
| Sesudah infeksi COVID-19 | Selama Recovery | |
| Weight | 85,5 kg | 89,4 kg (+3,9 kg) |
| Skeletal Muscle Mass | 37,2 kg | 39,0 kg (+1,8 kg) |
| ECW Ratio | 0,374 | 0,374 (+0,000) |
| Phase Angle | 5,7 | 6,4 (+0,7) |
Penurunan berat badan umum terjadi pada pasien COVID-19. Umumnya ini berkaitan dengan penurunan massa otot. Penelitian juga menemukan bahwa sebagian besar penyintas COVID-19 mengalami kelemahan otot tungkai setelah dirawat di ICU. Lalu 44% pasien dengan kelemahan otot tungkai ini masih memiliki fungsi tubuh yang sangat terbatas satu bulan setelah sembuh. (3,6)

Penilaian komposisi tubuh InBody juga memungkinkan adanya penilaian cairan tubuh dan Phase Angle. Peningkatan nilai ECW Ratio dapat berkaitan dengan adanya inflamasi dalam tubuh. Selama inflamasi, tubuh mengalirkan cairan lebih banyak ke area yang mengalami inflamasi sehingga bisa terjadi peningkatan cairan di luar sel (ECW).

Phase Angle menggambarkan kesehatan membrane sel seseorang. Semakin tinggi Phase Angle maka semakin bagus kesehatan selnya. Phase Angle dapat menurun ketika kita sakit. Phase Angle yang rendah juga sangat memprediksikan adanya penurunan kekuatan otot.
Untuk mengembalikan status kesehatan dengan maksimal pada pasien pasca infeksi COVID-19, perlu dilakukan monitoring komposisi tubuh. Proses pemulihan dapat tercapai dengan baik ketika tidak hanya fokus pada penurunan berat badan saja, namun juga fokus pada komposisi tubuhnya.
Anda tertarik untuk mempelajari case ini lebih lanjut? Silahkan hubungi kami untuk memperoleh informasi yang Anda inginkan!
Sumber:
-Brugliera L, Spina A, Castellazzi P, Cimino P, Arcuri P, Negro A, et al. Nutritional management of COVID-19 patients in a rehabilitation unit. Eur J Clin Nutr. 2020;74:860–3.
-Anker MS, Landmesser U, Haehling S Von, Butler J, Coats AJS, Anker SD. Weight loss, malnutrition, and cachexia in COVID-19 : facts and numbers. J Cachexia Sarcopenia Muscle. 2021;12:9–13.
-Ali AM, Kunugi H. Skeletal Muscle Damage in COVID-19 : A Call for Action. Medicina (B Aires). 2021;57(4):372.
-Gemelli Against COVID-19 Post-Acute Care Study Group. Post ‑ COVID ‑ 19 global health strategies : the need for an interdisciplinary approach. Aging Clin Exp Res. 2020;32:1613–20.
-WHO. Support for Rehabilitation Self-Management after COVID-19- Related Illness. Denmark: World Health Organization; 2020.
-Medrinal C, Prieur G, Bonnevie T, Gravier F, Mayard D, Desmalles E, et al. Muscle weakness , functional capacities and recovery for COVID-19 ICU survivors. BMC Anesthesiol. BMC Anesthesiology; 2021;21(64).

